Sejarah awal
Sebagai awal kita akan mengenal tata busana di Dunia Kuno, adalah peradaban
yang terjadi disekitar Mediterranea pada masa sebelum Masehi.
Pada
dasarnya pakaian tidaklah hanya merupakan alat pelindung terhadap keadaan cuaca
semata mata. Suku bangsa primitive ada kalanya mengenakan pakaian tebal panas
di Katulistiwa dan kadang-kadang hamper telanjang didaerah kutub.
Perbedaan
berbusana antara suku bangsa di pegunungan, kaum nomadan, penghuni padang
pasir, goa, petani dan orang kota terlihat jelas. Sedangkan pada golongan
berkedudukan tinggi, kaum ningrat dan aristocrat unsure-unsur simbolis
kedudukan mereka sangat ditonjolkan.
Bangsa-bangsa
kuno pada mulanya hanya mengenakan kain cawet, kadang-kadang dilengkapi dengan
selendang. Tutup kepala dan alas kaki, hamper tak dipakai. Busana zaman kuno
yang sangat berpengaruh adalah busana yang berasal dari suku bangsa yang
memiliki kebudayaaan sendiri seperti bangsa Mesir Kuno dan Bangsa Babylonia.
Kedua bangsa ini memiliki bentuk dasar busana yang sama yaitu bentuk dasar
kemeja.
Bangsa Mesir
Kuno menghias bentuk dasar ini dengan mempergunakan kain itu sendiri, yaitu
dengan cara pemberian lipit-lipit ( pleats, plissee ). Bangsa Babylonia dengan
menambah potongan-potongan strook yang berumbai-rumbai.
Bentuk
kostum dari masing-masing suku bangsa zaman kuno ini saling berbeda tapi
sepintas tak terlihat perbedaannya. Potongan-potongan kain besar atau lebarnya
tergantung yang dihasilkan oleh alat tenun pada masa itu diterima sebagai
bentuk dasar kostum untuk kemudian dilipat, dililit, dilingkarkan atau disusun
pada badan dalam aneka perbandingan panjang atau lebar kain itu sendiri.
Akan jelas
bahwa dengan demikian busana zaman kuno dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu
:
- Rok – rok lipit ( sarung )
- Bentuk dasar kemeja
- tunika
- kaftan
Tunika dan kaftan hingga kini masih dikenakan oleh bangsa-bangsa di Afrika
Utara dan Timur Tengah.
- Deraperi.
Sepotong kain disusun pada bahan, acapkali sebagai tambahan. ( ingat : sari
pada busana khas India )
Busana deraperi memberi aksen pada gerakan badan hingga merupakan pakaian
paling plastis dari Dunia Kuno.
Dalam dunia kuno bentuk celana hamper tidak digunakan. Sesekali bentuk ini
dijumpai sebagai pakaian rasionil pada suku bangsa- suku bangsa pegunungan atau
pada suku bangsa-suku bangsa penunggang kuda.
BUSANA DAN
PERLENGKAPAN BUSANA MASYARAKAT MESIR KUNO
Zaman Mesir Kuno dapat dikatakan zaman emas karena pada masa itu telah
mengenal emas dan tersedia sangat berlimpah. Kaum ningrat bias meletakkan emas
dimana saja sehingga logam mulia itu seakan-akan tidak bernilai bagi mereka.
Busana yang dipakai pada masa itu masih dalam bentuk yang sangat sederhana
berupa busana dalam bentuk kemeja tanpa krag dinamakan KALASIRIS.
Dalam periode kerajaaan kunoKalasirirs berlengan setali ini sangat pendek
dan ketat, sedangkan dalam periode kerajaan baru kalasiris dibuat panjan dan
lebar serta diberi lipit-lipit yang merupakan unsure dekoratif yang sangat
dominant pada tata busana bangsa Mesir kuno.
Pelengkap Kalasiris : berbagai sarung pendek dan aneka krag. Yang dibuat
dari berbagai macam bahan. Sepeti Linen yang dikanji sangat kaku agar mudah
dibentuk, ini biasa digunakan oleh rakyat biasa. Ada juga dibuat dari kulit
atau logam mulia, ini biasa digunakan oleh kaum ningrat dan tokoh-tokoh penting
lainnya. Pada kragnya juga acapkali ditambahkan hiasan dari permata yang
disusun dalam susunan geometris.
Sedangkan sarung pendek atau disebut SCHENTI juga memberikan efek dekoratif
pada kalasiris. Yang juga terkadang dibuat dari kulit berlapis emas.
Asesoris lainnya ada selendang yang disebut STOLA yang disusun sebagai
draperi pada bahu. Dikenakan juga semacam rompi panjang yang dibuat dari
susunan jalinan dan ronce manik-manik.
Untuk Firaun, kalasiris yang berlipit-lipit dibuat dari kain emas agar
memberi kesan kedewaan.
Untuk Pendeta dan Firaun memakai tutup kepala dari kain yang dilipat
menjadi segitiga.
Tutup kepala ini disebut KLAFT.
Aneka mahkota yang terdapat di Mesir:
Mahkota Pschent -: Mahkota ganda terdiri dari Mahkota Merah dan Mahkota
Putih warna pada mahkota ini9 menunjukkan daerah kekuasaan pada masa itu. Untuk
warna merah meliputi Mesir Bawah dan warna putih meliputi daerah Mesir Hulu.
Mahkota CHEPERESH : Mahkota pada masa kerajaan baru ini berbentuk lebih
tinggi dari Pschent. Selalu dihias dengan Ular Ureus yang menghadap kedepan,
sebagai kepercayan agar terlindungi dari gigitan ular.
Untuk Ratu selalu memakai hiasan burung Elang diatas kepala dengan sayap
burung yang putih disisi kepala.
Selain itu ada juga Mahkota Hemhemet, Mahkota Perang, Mahkota Isis.
Raja Mesir Kuno juga melengkapi penampilannya dengan menggunakan janggut
palsu. Janggut palsu ini dibuat dari serat wol atau jalinan rambut, diikat
dengan pita kebelakang.
Juga ada gelang-gelang lebar dengan hiasan motif berupa symbol-simbol khas
Mesir kuno seperti Ular Ureus, Papyrus, burung elang, matahari bersayap dan
lain sebagainya.
Pengaruh Kebudayaan Mesir Kuno ini merupakan sumber ide atau inspirasi yang
tak pernah habis terhadap dunia mode. Masa Mesir Kuno ditahun 20an merupakan
sumbangan besar kepada gaya tahun 20an sampai dengan tahun 40an yang kemudian
dikenal sebagai Gaya ART DECO.
dan begitulah sedikit sejarah singkat mengenai fahson.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar